Hari-hari,setiap lelaki pasti akan bertembung dengan gadis-gadis chantek..
Baik di kelas,di libri,di kedai,di tepi jalan dan lain-lain tempat.
Hari ni nampak seorang gadis chantek,tapi esok nampak yang lebih chantek,dan lusa nampak yang giler bapak chantek!
Tapi macam biasa,hanya bertembung sahaja.Pertembungan sementara.Hanya mampu melihat sahaja dan diam.Mata yang berkomunikasi.Si gadis chantek hanya berjalan,bermuka ketat,nampak macam tak selesa bila ada yang memandang.Bangsat!
Tak perlu rasa bimbang,sebab nanti,esok,lusa dan hari akan datang pasti bertembung dengan yang lebih chantek lagi...Bumi ini takkan kekeringan gadis chantek.
Semua suka pada yang chantek.Dan semua memuji pada yang chantek.Semua melihat pada yang chantek.
Tanpa kau fikir kadang kala yang chantek itu plastik,yang chantek itu make up dan yang chantek itu hanya pada gambar edit-editan sahaja.
Percayalah yang chantek itu akan tua dan ke tanah juga tempat pulangnya...
Apakah dunia ini hanya menyanjung pada yang chantek-chantek ?
Wednesday, July 14, 2010
Monday, July 12, 2010
Wasiat Soe Hok Gie..
- Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
- Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
- Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
- Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
- Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
- Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
- Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
- Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
- Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
- Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
- Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
- Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
- Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
- To be a human is to be destroyed.
- Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
- Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
- I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
- Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
- Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
- Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
- Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Sunday, June 27, 2010
Dunia Tanpa Peluang..

Kau percaya pada peluang kedua?
Aku tak percaya.
Kau perlu pada peluang kedua?
Aku perlu.
Kau dapatkannya?
Aku gagal dapatkannya.
Jadi, mana peluang kau?
Emm, dunia ini indah.
Tapi bagai sarang lebah.
Semua menggelabah.
Bersesak-sesak ke lembah.
Masing-masing tak nak rebah.
Planet ini memang malang.
Tempat tinggal tanpa peluang.
Tempat gadis jalang.
Dan laki-laki helang.
Aku lihat.
Mat rempit tanpa peluang.
Aku lihat.
Mat dadah tanpa peluang.
Aku lihat juga.
Pasangan kekasih tanpa peluang.
Semua tersesat.
Pada dunia maha luas.
Semua terikat.
Pada dunia yang kononnya bebas.
Dan semua memilih lahanat.
Pada dunia yang wajibnya khalas.
Surahkan-lah aku apa-apa kalam.
Mimpikan-lah aku setiap malam.
Mandikan-lah aku pada zam-zam.
Tanamkan-lah aku dalam-dalam.
Doakan-lah aku dengan salam.
Aku tetap beriman.
Dunia itu.
Tanpa peluang.
Sunday, June 13, 2010
Langit Tak Mendengar..

Jadi hidup telah memilih.
Menurunkan aku ke bumi.
Hari berganti dan berganti.
Aku diam tak memahami.
Mengapa hidup begitu sepi.
Apakah hidup seperti ini.
Mengapa ku selalu sendiri.
Apakah hidupku tak berarti.
Coba bertanya pada manusia.
Tak ada jawabnya.
Aku bertanya pada langit tua.
Langit tak mendengar.
Hampa.
Friday, June 11, 2010
Jahanam..

Sekarang.
aku terhantuk.
Sekarang.
aku di patuk.
Sekarang.
aku di katuk.
Sekarang aku di cepok.
Oleh alasan-alasan kau yang lapok.
Hahaha sayang.
Tapi kau melayang.
Hahaha sayang.
Tapi kau goyang.
Hahaha sayang.
Tapi kau bagai bayang-bayang.
Hahaha sayang.
Tapi kau pincang.
Hahaha sayang.
Tapi kau bagai lalang.
Kau kata cinta.
Tapi kau dusta.
kau kata suka.
Tapi kau leka.
Kau kata sempurna.
Tapi kau merana.
Mungkin aku tak paham.
Mungkin aku yang tak hadam.
Mungkin aku tergamam.
Mungkin aku terlampau demam.
Dengan Keindahan kau.
Maaf.
Subscribe to:
Posts (Atom)